PUSAKA REMPAH DI NEGERI MARITIM

Authors

  • Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mahendradatta – Denpasar Author

DOI:

https://doi.org/10.47532/cakrawarti.v2i1.581

Keywords:

Pusaka, Rempah, Maritim

Abstract

Pusaka Rempah di Negeri Maritim dapat dijadikan sebagai cermin bagi kita, karena alur cerita Negara Republik Indonesia dalam menghadapi tantangan kedepan yang sangat multi dimensional kelihatan meredup, sampai-sampai berbagai kalangan akhir-akhir ini sering kali berwacana “kembali ke UUD 45”. Bahkan banyak diantaranya menggulirkan “NKRI Harga Mati”. Sejauh ini apakah semua upaya telah dilakukan adalah merupakan tindakan produktif atau preventif dalam merajut untaian kebersamaan kembali sebagai sebuah Negara berdaulat, yang senantiasa gonjang-ganjing dalam suasana pertentangan dan penuh persaingan. Nampaknya bangsa serta negara ini belum mampu memanfaatkan khasanah budaya maupun iptek, kearifan lokal dan nasional untuk tampil kreatif dalam menyelesaikan persoalannya dan berani mengambil resiko terbesar serta merumuskan solusi unik enigmatik menjadi arus besar pelestarian sejarah budaya maritim. Diawali dari philosofi bahwa pantai-pantai kita saling berhadapan dan pulau-pulaunya adalah milik kita. Adapun keraton dan lembaga adat yang terdapat di dalamnya berjalan mengatur rakyatnya. Kedua ekspedisi Pamalayu, merupakan sebuah ekspedisi diplomasi ketenteraan yang dilakukan Kerajaan Singasari pada masa Raja Kertanagara pada tarikh 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu (atau dikenal juga sebagai Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Jambi). Pada masa itu, Kerajaan Singasari menghendaki seluruh kawasan asia tenggara harus dikuwasai. Tentunya mereka sudah sangat memahami kemaritiman, alutsista dan dunia perkapalan. Ketiga Sriwijaya sebagai tonggak milenium pertama dalam kemaritiman dunia, mampu memindahkan perjalanan sutra yang awalnya lewat darat, kemudian dirubah melalui laut dan menggugurkan Perjanjian Tordesilas dibuat oleh Kepausan yang membagi laut menjadi dua kawasan yaitu kawasan barat dan timur. Sriwijaya dapat membuktikan dan menepis anggapan bahwa bagian laut setelah India ternyata tidak dikuasai oleh para hooligan, perompak, bajak laut dan sebagainya. Keempat Kerajaan Majapahit mampu menyatukan dan menata seluruh elemen-elemen kemaritiman nusantara yang dipimpin oleh panglima laut bernama Ranggalawe serta didukung konglomerat perkapalan nasional waktu itu bernama Nyai Kanggotan yang memiliki industri perkapalan berpusat di Tuban dengan kekuatan lebih dari 3200 jung jawa atau kapal jawa.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

09-02-2026