DESAIN RUANG PARAHYANGAN UNTUK PEMBANGUNANBERKELANJUTAN BERKONSEP EKOLOGI
Keywords:
Parahyangan; Ekologi; Ruang Meso; Pembangunan Berkelanjutan; Eco ProductAbstract
Ruang Parahyangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan pura merupakansebuah ruang atau wadah tempat masyarakat Hindu Bali melakukan aktivitas untukmenjalankan sradha bakti kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Parahyangansebagai tempat suci acapkali dilupakan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.Saat ini pembangunan masih berorientasi pada fasilitas fasilitas untuk masyarakat skalaluas dan mengesampingkan kaum minoritas. Di Bali sendiri keberadaan parahyanganmemegang nilai vital dan merupakan jiwa bagi masyarakat Hindu, sehingga keberadaannyapatut untuk dilestarikan. Pembangunan fisik yang sekecil apapun akan memberikandampak terhadap lingkungan, sehingga sangat penting untuk menerapkan konsep ekologidalam setiap lini pembangunan. Konsep ekologi merupakan metode dalam menciptakanlingkungan hidup yang berkelanjutan dan bisa berdampingan dengan makhluk hidup lai n.Penelitian ini didasarkan pada keinginan untuk menciptakan atau menghasilkan ecoproduct berupa ruang parahyangan yang menerapkan konsep ekologi dalampembangunannya, sehingga mampu bersinergi dengan tujuan pembangunan nasional yangberkesinambungan dan ramah lingkungan. Pembangunan khususnya pembangunan fisikselayaknya memiliki orientasi utama pada pembangunan yang memperhatikankeseimbangan alam dan lingkungan buatan yang harmoni antara lingkungan, manusia danbangunan. Ruang lingkup penelitian terbatas pada bentuk, fungsi dan makna dari ruangparahyangan dalam kaitannya dengan konsep ekologi. Penelitian ini menggunakan metodedescriptive kualitatif, dengan memfokuskan pencarian data melalui observasi danwawancara mendalam dengan berbagai pihak yang diyakini mampu mewakili masyarakatuntuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada.Dari hasil penelitian desain eko product pada ruang parahyangan di peroleh denganpenerapan konsep ekologi pada parahyangan, dicerminkan dari Tri Hita Karana sebagaibagian yang tidak terpisahkan dalam konsep tata ruang dan kehidupan masyarakat HinduBali. Pembagian ruang menjadi tiga bagian menyesuaikan dengan konsep alam yaituorientasi matahari dan sumbu bumi sebagai poros dunia. Bagian tersuci dari parahyanganmerupakan arah terbitnya matahari sebagai makna kemakmuran dan juga merupakantempat tertinggi sebagai makna tempat yang disucikan dan tempat berstananya paraDewa. Penggunaan material dari alam dan keberadaan ruang terbuka akan menciptakaniklim mikro memberikan kenyaman bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Tanamansarana upakara di letakkan pada sudut sudut parahyangan, selain sebagai elemenestetika, juga merupakan upaya untuk melestarikan jenis tanaman tertentu. Secara umumpenerapan konsep ekologi tercermin dari sinergi ruang parahyangan dengan alam yangmemungkinkan alam dapat berkembang dan mempertahankan jaring kehidupansebagaimana adanya.
References
Adhitama, S. (2020) ‘Konsep Tri Hita Karana
Dalam Ajaran Kepercayaan Budi Daya’,
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan
Kebudayaan, 20(2), pp. 29–45. Available
at: https://doi.org/10.32795/ds.v20i2.1020.
D.E, R. (no date) ‘TEOLOGI PURA AGUNG
BESAKIH DI DESA BESAKIH,
KECAMATAN RENDANG KABUPATEN
KARANGASEM Oleh : Relin D.E’.
Devi, M.G. (2002) ‘Kriteria-Kriteria
Pemanfaatan Ruang Kota Berlandaskan
Tata Nilai Tradisional Bali Di Kawasan
Warisan Budaya Di Pusat Kota Denpasar’.
Available at:
http://eprints.undip.ac.id/11822/.
Direktorat, K.P.U. (2012) Bersama Menata
Ruang Untuk Semua. 1st edn. Edited by P.
Rezeki. Jakarta: Ruang, Kementrian
Pekerjaan Umum Direktorat Jendral
Penataan.
Jaya, A. (2004) ‘KONSEP PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN ( Sustainable Development )’, Tugas Individu Pengantar
Falsafah Sains Semester Ganjil 2004, pp.
1–11.
Nurlita Pertiwi (2021) ‘Implementasi
Sustainable Development di Indonesia’,
Pustaka Ramadhan, pp. 1–134.
Rosidi, A. and Et.al (2017) Dimensi Tradisional
dan Spritiual Agama Hindu.
Somantri, L. (2011) ‘Keunggulan pulau Bali
sebagai daerah tujuan wisata andalan
indonesia’, pp. 1–10.
Suparmoko, M. (2020) ‘Konsep Pembangunan
Berkelanjutan Dalam Perencanaan
Pembangunan Nasional dan Regional’,
Jurnal Ekonomika dan Manajemen, 9(1),
pp. 39–50. Available at:
https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/em
a/article/download/1112/814.
Surasetja, I. (2000) ‘Nilai-Nilai , Sikap dan
Pandangan Budaya Timur’, Baha Kuliah,
pp. 1–11.
Susanta, I.N. and Wiryawan, I.W. (2016)
‘Konsep dan makna Arsitektur Tradisional
Bali dan Aplikasinya Dalam Arsitektur Bali’,
in Arsitektur Etnik dan Aplikasinya Dalam
Arsitektur Kekinian. Denpasar, pp. 1–13.
Wardani, L.K. (2010) ‘Fungsi, Makna, Dan
Simbol (Sebuah Kajian Teoritik)’, Seminar
Nasional Jelajah Arsitektur Nusantara
101010, pp. 1–10.
Wiriantari, F. (2020) ‘Catuspatha As A
Landmark Of Semarapura City In Terms Of
Physical And Socio-Cultural Aspects’,
International Journal of Engineering and
Emerging Technology, 5(1).
Wiriantari, F. et al. (2020) ‘The Value of
Catuspatha as a Public Space for the
Balinese Community in the Klungkung City
, Bali Indonesia : the Struggle for Activities
between Politics , Economics and SocioCulture’, International Journals of
Advanced Science Technology, 29(12), pp.
23–34.
Wiriantari, F. and Semarajaya, G.N. (2018)
‘Perancangan kori agung’, Anala, 2(18),
pp. 73–82. Available at:
http://ejournal.undwi.ac.id/index.php/anala/
article/view/586/589.
Wiriantari, F. and Wijaatmaja, A.B.M. (2019)
‘PERUBAHAN BENTUK, FUNGSI DAN
STRUKTUR JINENG DALAM
ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI’, in K.
Suaradnyana (ed.) Seminar Nasional
Inovasi dalam Penelitian Sains, Teknologi
dan Humaniora. Denpasar: Dwijendra
University, pp. 38–49. Available at:
https://eproceeding.undwi.ac.id/index.php/i
nobali/article/view/58.
Yulianasari, A.A.S.R. and Wiriantari, F. (2020)
‘Tipologi dan konsep tata letak sanggah
pada karang umah di desa adat bayung
gede’, 3(c), pp. 161–169. Available at:
https://doi.org/doi.org/10.17509/jaz/v3i3.27
875.




