KONTRIBUSI WISATA BUDAYA “MEGIBUNG” TERHADAPPENGEMBANGAN PARIWISATA DESA ADAT ASAK
DOI:
https://doi.org/10.47532/8yzjr910Keywords:
Desa Asak, Megibung, Wisata BudayaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi megibung serta untuk mengetahui
sejarah megibung. Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti
Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Tradisi
ini dibawa oleh I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem saat menang perang dalam
menaklukan kerajaan-kerajaan di Sasak, Lombok. Dahulu, saat prajurit sedang makan,
Sang Raja membuat aturan makan bersama dalam posisi melingkar yang dinamakan
Megibung. Bahkan, Sang Raja ikut makan bersama dengan para prajuritnya Tata cara
megibung yaitu warga menyiapkan makanan di atas nampan yang sudah dialasi daun
pisang. Nasi utih yang diletakkan di wadah itu disebut gibungan, sedangkan lauk dan
sayurnya disebut karangan atau selaan. Dari hasil penelitian yang sudah di lakukan yaitu bahwa tradisi megibung ini terdapat beberapa nilai yang terkandung yaitu terdiri dari ; (1). Nilai kekeluargaan.(2). Nilai kebersamaan,(3). Nilai relegius,dan (4). Nilai toleransi




